Sabtu, 27 Agustus 2016

Menguak Tradisi Bhanti-bhanti Masyarakat Wakatobi


Promosi Doktor

Tradisi bhanti-bhanti merupakan tradisi lisan yang masih berkembang di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Tradisi ini merupakan salah satu warisan budaya yang memuat ingatan kolektif masyarakat Wakatobi yang diwujudkan dalam bentuk pementasan.

“Keberadaan tradisi bhanti-bhanti Wakatobi ini tidak lepas dari beberapa unsur kelisanan seperti pementasan, formula, dan komposisi skematik,” kata Sumiman Udu, Rabu (10/8) saat menjalani ujian terbuka program doktor di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM.

Mempertahankan disertasi berjudul “Tradisi Bhanti-bhanti Wakatobi: Pementasan, Formula dan Komposisi Skematiknya”, Sumiman menjelaskan pementasan tradisi bhanti-bhanti Wakatobi merupakan peristiwa budaya yang melibatkan pelantun dan penonton dalam ruang waktu yang sama. Pementasan ini sangat ditentukan respons pelantun dan berbagai konteks dan respons penonton. Penonton yang dapat merespons konteks dan respons penonton merupakan pelantun yang disukai masyarakat Wakatobi.
Terkait formula pada tradisi bhanti-bhanti Wakatobi ini, Sumiman mengatakan formulanya disusun berdasarkan pola-pola formula dengan keunikan tersendiri. Formula tersebut adalah pengulangan kalimat dan pengulangan kelompok kata.

Sementara itu, komposisi skemati tradisi ini disusun berdasarkan beberapa hal. Salah satunya adalah pemanfaatan formula bhanti-bhanti sebagai sebagai pengembangan sekuen bhanti-bhanti yaitu pengulangan kalimat, kelompok kata, dan kata. Selain itu dalam penyusunan komposisi skematik dilakukan dengan memanfaatkan hubungan semantik antara satu bait dengan bait lainnya, memanfaatkan kalimat tanya, memberikan jawaban pertanyaan pelantun lain, serta merespon konteks yang ada.

“Komposisi skematik juga disusun berdasarkan atas pernyataan kontradiksi dengan bait sebelumnya. Kebanyakan mengangkat tema tentang kasih sayang ibu, kecemburuan, politik, cinta, dan refleksi masa lalu,” urainya.

Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Halu Oleo ini menyebutkan ketiga unsur tersebut memegang peranan penting dalam upaya pelestarian tradisi bhanti-bhanti Wakatobi. Dari berbagai unsur pementasan tersebut, semuanya memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya.

“Karenanya upaya untuk melestarikan dan mengembangkan tradisi bhanti-bhanti Wakatobi sebaiknya mendorong berbagai kebudayaan yang memungkinkan hadirnya pementasan tradisi ini,” pungkasnya. (Humas UGM/Ika)

Menguak Tradisi Bhanti-bhanti Masyarakat Wakatobi

Sabtu, 25 Juni 2016

PETA JALAN PEMBANGUNAN WAKATOBI: TANTANGAN DAN HARAPAN (bagian 1)



Oleh:
Sumiman Udu

Timbangi la bhonto timbangi
Te togo nolingka-lingkamo

Te lemba atu nte sangia
To salane nte ka’epea

Pikirkanlah la bhonto pikirkanlah
Kampung ini sudah mulai miring

Jabatan itu adalah suatu yang sakral
Kalau kita salah menjalankannya maka ada konsekuensinya

            
    Peta politik Wakatobi telah membawa wajah baru pemimpin Wakatobi dalam beberapa hari ke depan. Setidaknya, pemimpin lama Wakatobi Ir. Hugua telah sukses melakukan proses pemilihan demokrasi yang melahirkan pemimpin baru Wakatobi. Tentunya, masyarakat Wakatobi membutuhkan sebuah peta jalan politik yang dapat membawa perubahan Wakatobi ke arah yang lebih baik di masa yang akan datang. Peta pembangunan kabupaten Wakatobi yang lebih memihak kepada kepentingan rakyat, dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat Wakatobi.
                Sepuluh tahun kepemimpinan Hugua di Wakatobi yang di dampingi oleh Ediarto Rusmin (periode pertama) dan Arhawi Ruda (perioder kedua) telah membawa Wakatobi kepada salah satu kabupaten yang menjadi Kawasan Ekonomi Khusus yang diprioritaskan oleh negara sebagai salah satu kabupaten yang terpilih menjadi 10 destinasi wisata unggulan Indonesia. Namun, perlu kita renungkan kembali, apakah prestasi itu sudah memiliki korelasi dengan kesejahteraan masyarakat Wakatobi? bagaimana indeks pembangunan manusia Wakatobi? bagaimana tingkat kesehatan masyarakat Wakatobi? Semua ini membutuhkan kesadaran berpikir kita yang lebih jernih untuk memahami apa sebenarnya yang terjadi di Wakatobi.

Jumat, 10 Juni 2016

Benteng Tindoi: Pusat Konservasi Hutan Wangi-Wangi

Oleh: Sumiman Udu

Sekitar tahun 2008, bersama Rustam Awat dan Aslim perjalanan dimulai dengan mengendarai Motor menuju Wuta Mohute Desa Posalu Kecamatan Wangi-Wangi. Dari Kampung Tai Bhete, kami belok kiri menuju Kampung Tai Bhete. Di Kampung itulah, sepeda motor kami titipkan di dekat mesjid. Perjalan dilanjutkan dengan jalan kaki melalui jalur timur ke arah benteng Tindoi. 

Sebelum saya masuk ke dalam lingkungan benteng, menghadaplah ke arah timur, Anda akan menyaksikan lanskap yang indah, pemandangan padang savana yang terbentang luas antara Desa Longa dengan Tindoi dan Desa Pookambua. Di kejauhan sana juga anda akan menyaksikan Bandara Matahora dituju oleh pesawat. Melewati pulau, anda akan menikmati pemandangan bentangan laut Banda, serta kembang-kembang melati yang selalu menghiasi cincin karang Longa. Tentunya Anda akan menyaksikan keindahan yang luar biasa, jika anda menyaksikan matahari yang baru terbit di batas cakrawala di atas Longa.

Senin, 30 Mei 2016

TUMPANG-TINDIH KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA LAUT DAN PULAU-PULAU KECIL, WAKATOBI (SEBUAH KAJIAN EKONOMI ELEMBAGAAN SUMBERDAYA)

Sebuah Essay untuk Mata Kuliah

    OLEH

    LA ODE WAHIDIN


Wakatobi nama gugusan pulau memanjang di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi, yang dahulunya dikenal dengan sebutan Kepulauan Tukang Besi, terdiri atas 4 pulau besar (Wanci, Kaledupa, Tomia dan Binongko) dan puluhan pulau-pulau kecil lainnya dimana laut banda di bagian utara dan laut flores di bagian selatan. Wakatobi ditetapkan sebagai sebuah kawasan yang sangat strategis merupakan sebuah proses yang panjang. Sebelum terintegrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tahun 1950, Wakatobi merupakan sebuah wilayah Bharata (Provinsi) Kahedupa di bawah pemerintahan Kesultanan Buton. Sistem tata pemerintahan dan tata kelola sumberdaya alam yang terdapat di gugusan ini telah diatur dengan sangat apik, baik di darat maupun di laut. Sumberdaya lokal (tanah, hutan, sumberdaya air, terumbu karang, dan jenis-jenis ikan tertentu serta sumberdaya alam lainnya) yang menyangkut hajat hidup masyarakat lokal dikuasai oleh Sara (pemerintahan adat). Setiap pulau mempunyai Sara dan dari setiapnya disusun oleh pemuka-pemuka masyarakat sebagai pengambil kebijakan yang didasarkan atas pemenuhan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan keluarga.
Wakatobi mulai menjadi perhatian setelah melalui proses yang panjang sebagai sebuah daerah yang memiliki sumberdaya alam yang unik dan berbeda dari tempat lain di Indonesia. Sejak tahun 1987 dimana dimulai dari survey potensi sumberdaya alam laut oleh Ditjen PHPA tanggal 1987, sampai tahun 2007 menjadi Taman Nasional Wakatobi (TNW) setidaknya terdapat 24 proses administrasi legal formal yang telah dilewati. Luas kawasan TNW adalah 1.390.000 Ha, sama persis atau overlap dengan luas dan letak wilayah Kabupaten Wakatobi.  Dari luasan tersebut sebanyak 97% merupakan wilayah perairan/laut dan sisanya sebanyak 3% merupakan wilayah daratan berupa pulau-pulau[1]. Sedangkan defenitif menjadi sebuah pemerintah Kabupaten administratif baru dimulai sejak tanggal 18 Desember 2003 Wakatobi  resmi ditetapkan sebagai salah satu kabupaten pemekaran di Sulawesi Tenggara yang terbentuk berdasarkan Undang – Undang  Nomor  29 tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Bombana, Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Kolaka Utara[2]

Sabtu, 07 Mei 2016

TRADISI KANGKILO: SALAH SATU MODAL SOSIAL BUDAYA BAGI PEMBENTUKAN KARAKTER POSITIF MASYARAKAT BUTON[1]




 Oleh : Hamiruddin Udu
 Email: hamirudin78@gmail.com
1.         Pendahuluan
Tradisi sebagai salah satu bentuk kebudayaan mengandung sejumlah nilai yang berfungsi mengukuhkan pandangan masyarakat dan memberi arah dalam pergaulan yang diinginkan oleh norma dalam masyarakat (bdk. Tuloli, 1990: 19). Sejalan dengan itu, Sztompka (2005: 74) mengatakan bahwa sebagai kebiasaan dan kesadaran kolektif, tradisi merupakan mekanisme yang bisa memperlancar pertumbuhan pribadi masyarakat. Hal ini erat hubungannya dengan keberadaan tradisi sebagai wadah penyimpanan norma sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan itu, Parsons (1985) mengatakan bahwa kebudayaan adalah sistem simbol yang menekankan pada tindakan manusia sebagai pelakunya, yang memiliki sistem budaya yang terdiri dari sistem kepercayaan (bagian dari religi), sistem pengetahuan, sistem nilai moral, dan sistem pengungkap perasaan atau ekspresi.